Kuliah Umum "Teknik dan Pengalaman Penerjemahan Kitab Suci" Bersama Phil Fields di STT Moriah

02 November 2026

Kuliah Umum "Teknik dan Pengalaman Penerjemahan Kitab Suci" Bersama Phil Fields di STT Moriah

Gading Serpong – Yayasan Scriptura Indonesia bersama Sekolah Tinggi Teologi (STT) Moriah dan Yayasan Albata menggelar kuliah umum bertajuk "Teknik dan Pengalaman Penerjemahan Kitab Suci" pada Rabu, 28 Oktober 2026. Kegiatan ini berlangsung pukul 09.30–12.00 WIB di Gedung Gereja GPEI, Jl. Kelapa Puan Raya, Gading Serpong, dan diikuti oleh mahasiswa program S1, S2, dan S3, dosen, serta staf STT Moriah.

Kuliah umum ini diadakan untuk memperluas wawasan peserta tentang proses penerjemahan Kitab Suci: dari mana teks sumbernya berasal, bagaimana sebuah terjemahan disusun, dan persoalan apa saja yang dihadapi penerjemah ketika memindahkan makna dari bahasa Yunani ke bahasa Indonesia.

Mengenal Pembicara

Materi disampaikan oleh Phil Fields, linguis dan penerjemah Kitab Suci dari Yayasan Albata. Phil lahir di Kansas, Amerika Serikat, pada tahun 1950 dan meraih gelar Master di bidang Musik dari New England Conservatory.

Sejak akhir 1983 hingga 1999, ia tinggal dan melayani di Papua. Dari pengalaman panjang meneliti bahasa lokal di sana, Phil menyelesaikan terjemahan Perjanjian Baru ke dalam bahasa Orya, salah satu bahasa daerah di Papua, pada tahun 2005. Saat ini ia menetap di Arkansas, Amerika Serikat, dan tetap aktif sebagai konsultan linguistik. Setiap tahun ia datang ke Indonesia untuk membantu berbagai proyek kebahasaan.

Dari Mana Teks Perjanjian Baru Berasal?

Phil membuka sesi dengan sebuah contoh sederhana dari Lukas 4:4. Dalam Terjemahan Baru (TB), jawaban Yesus kepada Iblis berhenti pada kalimat "Manusia hidup bukan dari roti saja." Sementara itu, terjemahan seperti MILT memuat lanjutan "melainkan oleh setiap firman". Perbedaan ini muncul karena kedua terjemahan memakai teks Yunani yang berbeda. Mengutip catatan Dr. Wilbur Pickering, Phil menyebutkan bahwa kurang dari setengah persen naskah Yunani yang tidak memuat frasa tersebut.

Dari situ Phil mengajak peserta menelusuri sejarah teks Perjanjian Baru. Desiderius Erasmus (1466–1536), salah satu tokoh penting pada masa Reformasi, menyusun Perjanjian Baru berbahasa Yunani dengan acuan beberapa salinan kuno, yang tertua berasal dari abad ke-12. Edisi pertamanya terbit pada tahun 1516 dengan judul Novum Instrumentum omne, dan Erasmus merevisinya hingga lima edisi. Sebutan Textus Receptus (TR) sendiri baru dipakai pada tahun 1633.

Setelah Erasmus wafat, Robert Estienne atau Stefanus menerbitkan beberapa revisi TR (1546, 1549, 1550, dan 1551). Pada edisi 1550, ia memakai sekitar lima belas salinan kuno, dan edisi 1551 menjadi Perjanjian Baru Yunani pertama yang diberi nomor ayat. Teks inilah yang kemudian dipakai William Tyndale untuk menerjemahkan Perjanjian Baru ke dalam bahasa Inggris (terbit 1526). Tyndale harus melarikan diri karena dianiaya, sampai akhirnya dikhianati dan dihukum mati pada tahun 1536.

Phil juga menyinggung Geneva Bible yang terbit pada tahun 1560, 51 tahun sebelum King James Version (KJV). Terjemahan ini dikerjakan oleh sebuah tim, dilengkapi peta dan catatan studi di setiap halaman, memakai huruf miring untuk kata-kata tambahan yang tidak tertulis dalam bahasa sumber, dan dicetak dalam ukuran kecil dengan harga terjangkau supaya bisa dimiliki jemaat biasa.

Dua Golongan Teks: Bizantium dan Nestle-Aland

Babak baru dimulai pada abad ke-19. Konstantin von Tischendorf menemukan Codex Sinaiticus, naskah dari sekitar pertengahan abad ke-4, di Biara Santa Katarina di Gunung Sinai. Pada tahun 1881, B. F. Westcott dan F. J. A. Hort menerbitkan The New Testament in the Original Greek, yang banyak bersandar pada Codex Sinaiticus dan Codex Vaticanus. Pada tahun yang sama terbit Revised Version Perjanjian Baru, disusul Perjanjian Lama dan Baru pada 1885. Menurut Phil, inilah awal masuknya Critical Text atau Alexandrian Text ke dalam terjemahan Kitab Suci. Ia juga memperlihatkan halaman akhir Injil Markus dalam kedua kodeks tersebut, yang menyisakan ruang kosong atau memorial space.

Dalam materinya, Phil membedakan dua golongan teks:

  • Golongan Teks Nestle-Aland (GTNA) mengutamakan naskah-naskah tertua, khususnya papirus dari Mesir yang bisa bertahan karena iklimnya kering. Teks ini dikembangkan dari karya Westcott-Hort, lalu diteruskan oleh Eberhard Nestle (1898), Erwin Nestle, dan Kurt Aland. Edisi terbarunya adalah edisi ke-28 yang terbit pada tahun 2012.
  • Golongan Teks Bizantium (GTB), menurut pemaparan Phil, mewakili lebih dari 95 persen dari sekitar 6.000 naskah kuno yang ada. Naskah-naskah ini banyak ditemukan di wilayah jemaat mula-mula seperti Antiokhia, Efesus, Kolose, Roma, dan Korintus. Sampai sekarang Gereja Ortodoks Timur masih memakai teks Yunani Bizantium dalam ibadah.

Phil kemudian menunjukkan beberapa contoh perbedaan kedua golongan teks ini, antara lain:

  • Markus 9:29 – GTB memuat "doa dan puasa", sedangkan GTNA hanya "doa". Menurut data yang ia sampaikan, hanya empat naskah kuno yang tidak memuat kata "puasa", sementara lebih dari 1.600 naskah memuatnya.
  • Lukas 22:43–44 – Ayat tentang malaikat yang menguatkan Yesus dan peluh-Nya yang seperti titik-titik darah diberi tanda kurung ganda dalam GTNA. Padahal, kata Phil, sekitar 99 persen naskah kuno memuat kedua ayat ini.
  • Lukas 3:33 – GTB menulis "anak Aram", sesuai dengan silsilah dalam 1 Tawarikh 2 dan Matius 1. GTNA menulis "anak Admin, anak Arni", dua nama yang tidak ditemukan dalam Perjanjian Lama maupun Injil Matius.
  • Markus 1:2 – GTB menulis "dalam kitab para nabi", yang cocok dengan kutipan dari Maleakhi dan Yesaya sesudahnya. GTNA menulis "dalam kitab nabi Yesaya".

Menurut Phil, pilihan teks Yunani ini penting, terutama ketika orang Kristen harus menjawab tuduhan bahwa teks sumber Kitab Suci sudah dipalsukan.

Dua Jenis Terjemahan yang Terpenting

Pada bagian berikutnya, Phil menjelaskan bahwa terjemahan Kitab Suci bisa digambarkan sebagai sebuah garis. Di satu ujung ada terjemahan interlinear, lalu terjemahan harfiah seperti KJV dan TB. Berikutnya terjemahan berdasarkan arti seperti BIS dan Terjemahan Sederhana Indonesia (TSI), dan di ujung lainnya parafrase yang terlalu bebas seperti FAYH dan The Message.

Dari semua jenis itu, ada dua yang paling penting:

 Terjemahan harfiahTerjemahan berdasarkan arti
KelebihanTepat sesuai bentuk bahasa sumberTepat sesuai arti bahasa sumber
KekuranganArti bahasa sumber kurang tampak karena bahasanya jadi kurang wajar atau kurang jelasBentuk bahasa sumber kurang tampak

Phil menekankan bahwa komunikasi manusia tidak hanya terdiri dari kata-kata. Ada jarak antara pembaca masa kini dan pembaca pertama Kitab Suci, yaitu jarak konteks, pengetahuan, dan kebudayaan. Untuk menggambarkan pentingnya konteks, ia memakai percakapan dalam dialek Papua: "Ko su isi kah?" dan "Sa tra isi." Tanpa tahu konteksnya, pendengar tidak akan paham apa yang sedang dibicarakan.

Dari beberapa contoh ayat, Phil menunjukkan apa yang bisa dilakukan oleh terjemahan berdasarkan arti:

  • Membuat informasi tersirat menjadi tersurat. Dalam Kisah Para Rasul 2:8–11, TSI menjelaskan mana yang merupakan kota, provinsi, atau daerah, sehingga pembaca masa kini lebih mudah membayangkan asal orang-orang yang hadir pada hari Pentakosta.
  • Menerjemahkan gaya bahasa sesuai artinya. Dalam Matius 21:16, pertanyaan retoris Yesus diterjemahkan sedemikian rupa sehingga maksud teguran-Nya kepada para imam kepala dan ahli Taurat lebih terasa.
  • Mengubah urutan informasi. Dalam Galatia 1:1–2, TSI menata ulang salam pembuka Paulus supaya terdengar lebih wajar dalam bahasa Indonesia.

Mengapa TSI Berbeda?

Phil juga memperkenalkan Terjemahan Sederhana Indonesia (TSI) yang dikerjakan oleh Albata. Ia memulai dengan sebuah kenyataan: bagi banyak orang di Indonesia, Firman Tuhan masih sulit dimengerti, sehingga minat membaca Kitab Suci pun rendah. Albata rindu melihat pembaruan hidup sampai ke pelosok Indonesia melalui Firman Tuhan yang mudah dimengerti. Karena itu, TSI diterjemahkan berdasarkan arti dengan tiga prinsip: wajar, jelas, dan tepat.

Ia menegaskan bahwa Albata tetap menghormati TB sebagai Firman Tuhan yang sudah lama dipakai Tuhan untuk berbicara kepada umat-Nya di Indonesia. Meski begitu, mahasiswa teologi dan para penerjemah tetap boleh meneliti berbagai terjemahan secara kritis. Phil lalu membacakan kutipan dari kata pengantar NLT, NIV, NET, dan ESV. Semuanya mengakui hal yang sama: tidak ada terjemahan Kitab Suci yang sempurna.

Menurut Phil, banyak persoalan terjemahan muncul karena perbedaan antara bahasa Indonesia dan bahasa sumber. Dua di antaranya ia bahas secara khusus:

  1. Kata ganti orang sering kurang jelas. Dalam Filemon ayat 25, kata Yunani yang diterjemahkan "kamu" dalam TB sebenarnya berbentuk jamak. TSI menerjemahkannya "kamu semua". Contoh lain ada di Titus 2:11–12. TB menulis "Ia mendidik kita", sehingga pembaca bisa bingung siapa yang dimaksud dengan "Ia". TSI menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah kebaikan hati Tuhan yang bekerja dalam hati kita.
  2. Kata benda abstrak sering sulit dimengerti. Roma 1:18 dalam TB memuat beberapa kata benda abstrak sekaligus, seperti "kefasikan", "kelaliman", dan "kebenaran". TSI mengurai kata-kata itu menjadi kalimat yang lebih mudah ditangkap pembaca.

Cara Memahami dan Menerjemahkan Kata Benda Abstrak

Bagian terakhir menjadi semacam latihan bersama. Phil mengambil Efesus 1:1, ayat yang menyebut jemaat di Efesus sebagai "orang-orang kudus". Ia bertanya kepada peserta: kata kerja apa yang terkandung dalam sebutan itu? Apakah artinya orang yang hidup secara kudus, atau orang yang dijadikan kudus? Jika dijadikan kudus, siapa pelakunya?

Dari konteksnya, Phil menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah orang-orang yang disucikan oleh Kristus. Karena itu TSI menerjemahkannya sebagai jemaat Efesus yang percaya penuh kepada Kristus Yesus "dan yang disucikan-Nya". "Inilah identitas baru kita," ujarnya.

Phil merangkum caranya dalam tiga langkah:

  1. Tentukan kata kerja yang terkandung dalam kata benda abstrak tersebut.
  2. Tentukan pelakunya dari konteks.
  3. Cocokkan dengan informasi yang tertulis atau tersirat dalam konteks ayat.

Ia menutup bagian ini dengan sebuah pegangan sederhana: kalau kita tidak bisa mengubah sebuah kata benda abstrak menjadi kata kerja, berarti kita belum benar-benar mengerti kata itu.

Sumber Belajar Lanjutan

Bagi peserta yang ingin mendalami materi ini, Phil merekomendasikan beberapa sumber:

  • Aplikasi MyBible (pengembang: Denys Dolganenko), yang menurut Phil adalah aplikasi terbaik untuk membandingkan teks-teks bahasa sumber Kitab Suci.
  • Terjemahan Perjanjian Baru karya Dr. Wilbur Pickering, The Sovereign Creator Has Spoken, yang tersedia gratis di aplikasi MyBible dan Kindle.
  • Artikel "Teks PB Yunani yang digunakan oleh Albata" yang bisa diunduh di situs albata.info.

Penutup

Kuliah umum ini berjalan dengan baik berkat kerja sama Yayasan Scriptura Indonesia, STT Moriah, dan Yayasan Albata. Yayasan Scriptura Indonesia mengucapkan terima kasih kepada Phil Fields atas waktu dan ilmu yang dibagikan, serta kepada STT Moriah dan seluruh peserta yang sudah hadir.

Kiranya kegiatan ini menolong para mahasiswa, dosen, dan pelayan Tuhan untuk makin mengerti Firman-Nya, sekaligus mendorong lebih banyak orang terlibat dalam pelayanan penerjemahan Kitab Suci di Indonesia.